JAKARTA (Pos Kota) – Perkembangan penggunaan teknologi canggih untuk efisiensi industri akan mengakibatkan 200.000 orang per tahunnya tidak terserap dunia kerja.
“Pengaruh teknologi baru dan tuntutan efisiensi kerja menyebabkan daya serap perekonomian terhadap tenaga kerja turun sebesar 200.000 pertahun,” kata Ketua Umum Kadin Bambang Suryo Sulisto di kantor kementerian perindustrian, Rabu.
Menurutnya, lulusan pendidikan SMA dan perguruan tinggi terus bertambah, namun mereka tidak dapat diserap oleh industri yang berbasis teknologi tinggi.
Saat ini, lanjutnya, tingkat pendidikannya dari 8,14 juta pengangguran terbuka di Indonesia, 20% merupakan tamatan SD, sebanyak 22,6% tamatan SLTP, 40,07% tamatan SLTA, 4% tamatan diploma dan 5,7% tamatan sarjana.
“Kalau 9 juta pengangguran yang ada sekarang tidak mendapat kesempatan kerja, maka tujuan MP3EI (masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia) menuju PBD 4,5 triliun dolar AS dengan pendapatan perkapita sebesar 15.000 dolar AS kemakmuran rakyat tidak akan tercapai.
Di tempat sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan pemerintah mengakui. Dilema tersebut, Karena itu pemerintah memberikan insentif bagi industri yang padat karya atau menyerap banyak tenaga kerja.
“Ya untuk yang berteknologi tinggi seringkali tidak menyerap tenaga kerja yang banyak tetapi yang menjadi prioritas kita sekarangkan yang labour intensif itu yang kita beri tax incentive-kan. Tapi kan tidak bisa dicegah kalau investasinya di IT dimana tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja maksudnya itu,” katanya.